IQRA'

KATAKAN LAILLAHAILALLAH MUHAMMADURRASULALLAH

Kamis, 11 Juni 2009

UNTUK SEBUAH RENUNGAN BERSAMA

TECHNOreligi








Gadis Kecil Yang Sholihah
Written by Redaksi2
Thursday, 18 September 2008 19:26


Aku akan meriwayatkan kepada anda kisah yang sangat berkesan ini, seakan-akan anda mendengarnya langsung dari lisan ibunya. Berkatalah ibu gadis kecil tersebut:Saat aku mengandung putriku, Afnan, ayahku melihat sebuah mimpi di dalam tidurnya. Ia melihat banyak buruk pipit yang terbang di angkasa. Di antara burung-burung tersebut terdapat seekor merpati putih yang sangat cantik, terbang jauh meninggi ke langit. Maka aku bertanya kepada ayah tentang tafsir dari mimpi tersebut. Maka ia mengabarkan kepadaku bahwa burung-burung pipit tersebut adalah anak-anakku, dan sesungguhnya aku akan melahirkan seorang gadis yang bertakwa. Ia tidak menyempurnakan tafsirnya, sementara akupun tidak meminta tafsir tentang takwil mimpi tersebut.Setelah itu aku melahirkan putriku, Afnan. Ternyata dia benar-benar seorang gadis yang bertakwa. Aku melihatnya sebagai seorang wanita yang shalihah sejak kecil. Dia tidak pernah mau mengenakan celana, tidak juga mengenakan pakaian pendek, dia akan menolak dengan keras, padahal dia masih kecil. Jika aku mengenakan rok pendek padanya, maka ia mengenakan celana panjang di balik rok tersebut.Afnan senantiasa menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Setelah dia menduduki kelas 4 SD, dia semakin menjauh dari segenap perkara yang membuat murka Allah. Dia menolak pergi ke tempat-tempat permainan, atau ke pesta-pesta walimah. Dia adalah seorang gadis yang berpegang teguh dengan agamanya, sangat cemburu di atasnya, menjaga shalat-shalatnya, dan sunnah-sunnahnya. Tatkala dia sampai SMP mulailah dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak pernah melihat sebuah kemungkaran kecuali dia mengingkarinya, dan memerintah kepada yang ma'ruf dan senantiasa menjaga hijabnya.

Permulaan dakwahnya kepada agama Allah adalah permulaan masuk Islamnya pembantu kami yang berkebangsaan Srilangka.Ibu Afnan melanjutkan ceritanya:Tatkala aku mengandung putraku, Abdullah, aku terpaksa mempekerjakan seorang pembantu untuk merawatnya saat kepergianku, karena aku adalah seorang karyawan. Ia beragama Nashrani. Setelah Afnan mengetahui bahwa pembantu tersebut tidak muslimah, dia marah dan mendatangiku seraya berkata: "Wahai ummi, bagaimana dia akan menyentuh pakaian-pakaian kita, mencuci piring-piring kita, dan merawat adikku, sementara dia adalah wanita kafir?! Aku siap meninggalkan sekolah, dan melayani kalian selama 24 jam, dan jangan menjadikan wanita kafir sebagai pembantu kita!!"Aku tidak memperdulikannya, karena memang kebutuhanku terhadap pembantu tersebut amat mendesak. Hanya dua bulan setelah itu, pembantu tersebut mendatangiku dengan penuh kegembiraan seraya berkata: "Mama aku sekarang menjadi seorang muslimah, karena jasa Afnan yang terus mendakwahiku. Dia telah mengajarkan kepadaku tentang Islam." Maka akupun sangat bergembira mendengar kabar baik ini.Saat Afnan duduk di kelas 3 SMP, pamannya memintanya hadir dalam pesta pernikahannya. Dia memaksa Afnan untuk hadir, jika tidak maka dia tidak akan ridha kepadanya sepanjang hidupnya. Akhirnya Afnan menyetujui permintaannya setelah ia mendesak dengan sangat, dan juga karena Afnan sangat mencintai pamannya tersebut.Afnan bersiap untuk mendatangi pernikahan itu. Dia mengenakan sebuah gaun yang menutupi seluruh tubuhnya. Dia adalah seorang gadis yang sangat cantik. Setiap orang yang melihatnya akan terkagum-kagum dengan kecantikannya. Semua orang kagum dan bertanya-tanya, siapa gadis ini? Mengapa engkau menyembunyikannya dari kami selama ini?Setelah menghadiri pernikahan pamannya, Afnan terserang kanker tanpa kami ketahui. Dia merasakan sakit yang teramat sakit pada kakinya. Dia menyembunyikan rasa sakit tersebut dan berkata: "Sakit ringan di kakiku." Sebulan setelah itu dia menjadi pincang, saat kami bertanya kepadanya, dia menjawab: "Sakit ringan, akan segera hilang insya Allah." Setelah itu dia tidak mampu lagi berjalan. Kamipun membawanya ke rumah sakit.Selesailah pemeriksaan dan diagnosa yang sudah semestinya. Di dalam salah satu ruangan di rumah sakit tersebut, sang dokter berkebangsaan Turki mengumpulkanku, ayahnya, dan pamannya. Hadir pula pada saat itu seorang penerjemah, dan seorang perawat yang bukan muslim. Sementara Afnan berbaring di atas ranjang.Dokter mengabarkan kepada kami bahwa Afnan terserang kanker di kakinya, dan dia akan memberikan 3 suntikan kimiawi yang akan merontokkan seluruh rambut dan alisnya. Akupun terkejut dengan kabar ini. Kami duduk menangis. Adapun Afnan, saat dia mengetahui kabar tersebut dia sangat bergembira dan berkata "Alhamdulillah... alhamdulillah... alhamdulillah." Akupun mendekatkan dia di dadaku sementara aku dalam keadaan menangis. Dia berkata: "Wahai ummi, alhamdulillah, musibah ini hanya menimpaku, bukan menimpa agamaku."Diapun bertahmid memuji Allah dengan suara keras, sementara semua orang melihat kepadanya dengan tercengang!!Aku merasa diriku kecil, sementara aku melihat gadis kecilku ini dengan kekuatan imannya dan aku dengan kelemahan imanku. Setiap orang yang bersama kami sangat terkesan dengan kejadian ini dan kekuatan imannya. Adapun penerjemah dan para perawat, merekapun menyatakan keislamannya!!Berikutnya adalah perjalanan dia untuk berobat dan berdakwah kepada Allah.Sebelum Afnan memulai pengobatan dengan bahan-bahan kimia, pamannya meminta akan menghadirkan gunting untuk memotong rambutnya sebelum rontok karena pengobatan. Diapun menolak dengan keras. Aku mencoba untuk memberinya pengertian agar memenuhi keinginan pamannya, akan tetapi dia menolak dan bersikukuh seraya berkata: "Aku tidak ingin terhalangi dari pahala bergugurannya setiap helai rambut dari kepalaku."Kami (aku, suami dan Afnan) pergi untuk pertama kalinya ke Amerika dengan pesawat terbang. Saat kami sampai di sana, kami disambut oleh seorang dokter wanita Amerika yang sebelumnya pernah bekerja di Saudi selama 15 tahun. Dia bisa berbicara bahasa Arab. Saat Afnan melihatnya, dia bertanya kepadanya: "Apakah engkau seorang muslimah?" Dia menjawab: "Tidak."Afnanpun meminta kepadanya untuk mau pergi bersamanya menuju ke sebuah kamar kosong. Dokter wanita itupun membawanya ke salah satu ruangan. Setelah itu dokter wanita itu kemudian mendatangiku sementara kedua matanya telah terpenuhi linangan air mata. Dia mengatakan bahwa sesungguhnya sejak 15 tahun dia di Saudi, tidak pernah seorangpun mengajaknya kepada Islam. dan di sini datang seorang gadis kecil yang mendakwahinya. Akhirnya dia masuk Islam melalui tangannya.Di Amerika, mereka mengabarkan bahwa tidak ada obat baginya kecuali mengamputasi kakinya,karena dikhawatirkan kanker tersebut akan menyebar sampai ke paru-paru dan akan memarikannya akan tetapi Afnan sama sekali tidak takut terhadap amputasi, yang dia khawatirkan adalah perasaan kedua orangtuanya.PAda suatu hari Afnan berbicara dengan salah satu temanku melalui Messenger. Afnan bertanya kepadanya: "Bagaimana menurut pendapatmu, apakah aku akan menyetujui mereka untuk mengamputasi kakiku?" Maka dia mencoba untuk menenangkannya, dan bahwa mungkin kaki palsu sebagai gantinya. Maka Afnan menjawab dengan satu kalimat: "Aku tidak memperdulikan kakiku, yang aku inginkan adalah mereka meletakkanku di dalam kuburku sementara aku dalam keadaan sempurna. " Temanku tersebut berkata: "Sesungguhnya setelah jawaban Afnan, aku merasa kecil di hadapan Afnan, Aku tidak memahami sesuatupun, seluruh pikiranku saat itu tertuju kepada bagaimana dia nanti akan hidup, sedangkan fikirannya lebih tinggi dari itu, yaitu bagaimana nanti dia akan mati."Kamipun kembali ke Saudi setelah kami amputasi kaki Afnan, dan tiba-tiba kanker telah menyerang paru-paru!!Keadaannya sungguh membuat putus asa, karena mereka meletakkannya di atas ranjang, dan disisinya terdapat sebuah tombol. Hanya dengan menekan tombol tersebut maka dia akan tersuntik dengan jarum bius dan jarum infus.Di rumah sakit tidak terdengar suara adzan dan keadaannya seperti orang yang koma. Tetapi hanya dengan masuknya waktu shalat dia terbangun dari komanya, kemudian meminta air, kemudian wudhu dan shalat, tanpa ada seorangpun yang membangunkannya!!Di hari-hari terakhir Afnan, para dokter mangabari kami bahwa tidak ada gunanya lagi ia di rumah sakit. Sehari atau dua hari lagi dia akan meninggal. Aku ingin dia menghabiskan hari-hari terakhirnya di rumah ibuku.Di rumah, dia tidur di sebuah kamar kecil. Aku duduk di sisinya dan berbicara dengannya.Pada suatu hari, istri pamannya datang menjenguk. Aku katakan bahwa dia berada di dalam kamar sedang tidur. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia terkejut kemudian menutup pintu. Akupun terkejut dan khawatir terjadi sesuatu pada Afnan. Maka aku bertanya kepadanya, tetapi dia tidak menjawab. Maka aku tidak mampu lagi menguasai diri, akupun pergi kepadanya. Saat aku membuka kamar, apa yang kulihat membuatku tercengang. Saat itu lampu dalam keadaan dimatikan, sementara wajah Afnan memancarkan cahaya di tengah kegelapan malam. Dia melihat kepadaku kemudian tersenyum.
Dia berkata: "Ummi kemarilah, aku mau menceritakan sebuah mimpi yang telah kulihat." Kukatakan: "(Mimpi) yang baik Insya Allah. "
Dia berkata: "Aku melihat diriku sebagai pengantin di hari pernikahanku, aku mengenakan gaun berwarna putih yang lebar. Engkau dan keluargaku, kalian semua berada disekelilingku. Semuanya berbahagia dengan pernikahanku, kecuali engkau ummi."
Akupun bertanya kepadanya: "Bagaimana menurutmu tentang tafsir mimpimu tersebut."
Dia menjawab: "Aku menyangka, bahwasanya aku akan meninggal, dan mereka semua akan melupakanku, dan hidup dalam kehidupan mereka dalam keadaan berbahagia kecuali engkau ummi. Engkau terus mengingatku, dan bersedih atas perpisahanku."Benarlah apa yang dikatakan Afnan. Aku sekarang ini, saat aku menceritakan kisah ini, aku menahan sesuatu yang membakar dari dalam diriku, setiap kali aku mengingatnya, akupun bersedih atasnya.Pada suatu hari, aku duduk dekat dengan Afnan, aku dan ibuku. Saat itu Afnan berbaring diatas ranjangnya kemudian dia terbangun. Dia berkata: "Ummi, mendekatlah kepadaku, aku ingin menciummu." Maka diapun menciumku. Kemudian dia berkata: "Aku ingin mencium pipimu yang kedua ." Akupun mendekat kepadanya, dan dia menciumku, kemudian kembali berbaring di atas ranjangnya. Ibuku berkata kepadanya: "Afnan, ucapkanlah la ilaaha illallah."Kemudian dia menghadapkan wajah ke arah qiblat dan berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallaah." Dia mengucapkannya sebanyak 10 kali. Kemudian dia berkata: "Asyhadu allaa ilaaha illallahu wa asyhadu anna muhammadan rasuulullaah." Dan kelurlah rohnya.Maka kamar tempat dia meninggal di dalamnya dipenuhi oleh aroma minyak kesturi selama 4 hari. Aku tidak mampu untuk tabah, kelurgaku takut akan terjadi sesuatu terhadap diriku. Maka merekapun meminyaki kamar tersebut dengan aroma lain sehingga aku tidak bisa lagi mencium aroma Afnan. Dan tidak ada yang aku katakan kecuali alhamdulillah rabbil 'aalamin.

Majalah Qiblati edisi 04 tahun III 01-2008/12-1428
TECHNOsoft









KNOWLEDGE SPACE

see more...


SEVEN TOOLS FOR QUALITY IMPROVEMENT

Written by Millenia A. SusantiThursday, 10 April 2008



Quite simply, quality is defined as giving the customer the right thing right in the first time. When quality is implemented, it yields increased market share and reduced scrap and rework. Thus many companies have adopted different methods to gain quality improvement
One of many methods to ease the quality improvement process was introduced by Kaoru Ishikawa. It was called Seven Tools of Quality. Ishikawa believed that 95% of a company’s problems can be solved using these seven tools. The tools are designed for simplicity so average person can have less complicated statistical analysis. The seven tools are:
1.Flow Charts
2.Cause and Effect Diagrams
3.Check Sheets
4.Histograms
5.Pareto Diagrams
6.Scatter Diagrams
7.Control Charts

Flow Charts
Flow charts describe sequence of activities graphically in accomplishing a task. It must reflect the actual process rather than what the process owner wants it to be. By generating flow charts, process owner can understand the process and working relationship between people and organization will be clarified. Furthermore, flow charts will show the duplicated effort and other non value added steps. So process owner can identify the target specific steps in order to make continuous improvement.


Cause and Effect Diagrams
Cause and effect diagrams are also called Ishikawa diagrams or fishbone diagrams. These diagrams show a relationship between the effect of the problem and the causes. Although cause and effect diagrams can be developed by individual, but it is better to be brainstormed by a team. To help in identifying the causes, people used to take 5 potential factors which are man, machine, material, method, and environment as the guidance.Cause and effect diagramsconsist of 2 sides. The right side lists the effect or the problem, while the left side lists the causes of the problem.


Check Sheets
Check sheets are the paper forms for collecting data in real time easily and concisely. According to the data on check sheets, frequency or pattern of the events, problems, defects, etc. can be observed. These data are then used as input data for other seven quality tools such as histograms and pareto diagrams. Furthermore, collected data on check sheets can be used as input to understand the real situation, analyze occurring problem, control the process, make the decision, and develop planning.


Histograms
Histograms are bar graphs that present the frequency distribution of data. The horizontal axis represents the class interval of data while the vertical axis represents the frequency of each class interval. Not only for displaying data, histogram can also be used as a tool for summarizing and analyzing data. The particular values of histogram are:
1.Histograms show the variation of data.
2.The shape of the histogram gives some clues for analyzing the process.
3.When there is a specification, histogram serves data outside specification. Based on these data,

process owner can determine the action of continuous improvement.
4.When the data is stratified based on the factors which are thought to cause variation, the cause

of variation become more easily detected.


Pareto Diagrams
Pareto diagrams are diagrams consist of bar graph and line graph that describe the proportion of each problem cause toward the overall cause. According to these quality tools, the major factor of the problem can be identified. Thus, it helps process owner in prioritizing the problem to be solved first. As Dr. J. M. Juran said, 80% of the problems are caused by 20% of the potential sources.
Not only to identify the major problem, pareto diagram can also be used to analyze the improvement after solving some problems. Process owner can evaluate the process before and after solving the problems.


Scatter Diagrams
Scatter diagrams describe the correlation between 2 variables, so it can be identified whether those 2 variables are related.
After developing cause and affect diagrams, sometimes people use scatter diagrams to determine objectively whether the cause and the effect are related.
By looking at a glance to the scatter diagrams, process owner can analyze the positive/negative correlation of 2 variables. When the trend line goes from the bottom left to the up right, it means those 2 variables have positive correlation. Otherwise, if the trend line goes from the up left to the bottom right, and then it means those 2 variables have negative correlation.
Not all 2 variables have particular relation. There are also 2 variables that have no correlation.
Besides analyzing the positive/negative correlation, process owner can also determine how well the correlation between 2 variables. It is demonstrated by the location of each point. The closer the points plotted to the line, the better the correlation.


Control Charts
Control charts were invented by Walter A. Shewhart in 1920s. These quality tools consist of line graphs completed with maximum limit and minimum limit which provide control area. The maximum limit often called upper control limit and the minimum limit often called lower control limit, while the central line represents an estimate of the process mean. Since the value is within control area, the process can be stated as a controllable process. The value outside control area indicates that the process is no longer stable because of some variation causes. Thus, this process needs proper corrective actions to eliminate the sources of variation.
Control charts also show the process change over time. If the change is good, its cause should be identified and possibly become the new process. Otherwise if the change is bad, its cause should be identified and then be eliminated.
Control charts include 4 types of chart:


1.xbarR ChartIt is used for controlling and analyzing a process using continuous values of
product quality within one subgroup.
2.x ChartIt is used to control and analyze data at a long interval or ineffective subgrouping.
3.pn Chart and p ChartThese charts are used when the quality of characteristic is represented
by the number of defective units or fraction defective.
4.c Chart and u ChartThese charts are used for controlling and analyzing a process by defects of
a product. A c chart is used for a product with constant size, while a u chart is used for a
product with varying size.


References
Kume, Hitoshi. 1992. Statistical Methods for Quality Improvement. 3A Corporation. TokyoOne

TECHNOsoft









KNOWLEDGE SPACE

read it now..!


Pembuatan Desain Produk dan Pengembangannya

Written by Millenia A. SusantiWednesday, 22 October 2008


Dalam persaingan bisnis yang semakin ketat, inovasi dan pengembangan produk menjadi suatu hal yang sangat penting. Untuk melakukan pembuatan produk baru pun, ada langkah-langkah yang hendaknya diikuti agar project pembuatan produk baru ini dapat berhasil dengan baik.
Dalam buku Product Design and Development, Karl T. Ulrich dan Steven D. Eppinger mengungkapkan beberapa langkah dalam pembuatan dan pengembangan produk.

1.Perencanaan produk

Pada tahap ini, tim perencanaan produk membuat perencanaan produk dan menentukan mission statement dari project, dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi semua opportunity untuk mengembangkan produk

b. Mengevaluasi setiap opportunity pengembangan produk yang ada, kemudian

membuat prioritas project mana yang akan dilakukan

c. Membuat alokasi resource dan menentukan timeline serta urutan proses dari

project yang akan dilakukan

d. Membuat pre-project planning dengan mengidentifikasikan mission statement

dari produk (deskripsi produk, key business goals, target market, asumsi dan

hambatan yang ada, dan stakeholder dari produk)

e. Mengevaluasi kembali perencanaan produk yang telah dibuat

2. Identifikasi customer needsUntuk mengetahui customer needs, dapat dilakukan melalui berbagai macam metode, seperti interiew, melakukan focus group, atau melakukan observasi pada customer terhadap pemakaian suatu produk yang sudah ada. Setelah mendapatkan data yang dapat dikatakan masih kasar, data tersebut diinterpretasikan ke dalam ”customer needs” dan ditentukan mana customer need yang primer dan mana yang sekunder. Kemudian, tim harus menyebarkan kuesioner untuk mengetahui tingkat kepentingan dari setiap customer need.

3. Penentuan spesifikasi produkPada tahap ini, tim perencanaan produk harus membuat list dari metric produk, serta mengumpulkan informasi benchmarking dengan produk pesaing yang sudah ada. Setelah melakukan benchmarking, tim harus menentukan target nilai untuk setiap metric. Hal ini ditujukan untuk pengembangan produk selanjutnya.

4. Concept generationPada tahap ini, tim harus mengklarifikasikan mengenai masalah teknis yang terjadi pada produk yang akan dibuat. Kemudian, tim dapat mencari solusi pemecahan masalah tersebut dengan cara memecahkannya secara internal ataupun secara eksternal. Cara internal dapat dilakuakn misalnya dengan mencari banyak ide, menggunakan media grafik dan fisik, dsb. Sedangkan cara eksternal dapat dilakukan dengan menginterview lead user, mencari informasi pada produk pesaing lain yang sudah ada, mencari literature, konsultasi dengan ahli, ataupun konsultasi dengan pengguna produk, dsb.

5. Seleksi konsepDalam melakukan seleksi konsep, tim perencanaan produk harus membuat selection matrix terlebih dahulu untuk membandingkan setiap konsep yang ada. Kemudian, tiap konsep harus dibuat rating dan rankingnya, sehingga akan diketahui konsep mana yang paling layak untuk dilakukan. Karena terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk seleksi konsep, maka tim perencanaan produk dapat memilih salah satu metode ataupun dapat menggunakan lebih dari satu metode.

6.Pengujian konsepSetelah melakukan seleksi konsep, kemudian tim perencanaan produk harus melakukan pengujian konsep. Pertama-tama tim harus mendefinisikan tujuan dari pengujian konsep ini. Kemudian, tim memilih populasi dan survey format yang akan digunakan. Survey format dapat berupa interaksi langsung, melalui telepon, melalui surat, e-mail, ataupun internet. Pada survey tersebut, tim perencanaan produk harus memberitahukan kepada responden mengenai konsep produknya secara jelas, sehingga responden dapat mengerti. Setelah mendapatkan hasil survey, tim harus menginterpretasikan data tersebut.

7. Pembuatan arsitektur produkPada tahap ini tim pengembangan produk mengidentifikasi bagaimana fisik dari produk akan mempengaruhi fungsi produk. Karena, arsitektur dari produk ini akan berpengaruh pada perubahan produk, standarisasi komponen, performance produk, serta kemampuan produk untuk diproduksi.

8. Industrial designDalam membuat desain produk, Henry Dreyfuss (1967) menganjurkan agar desainer melihat 5 hal, yaitu kegunaan produk, penampilan produk, kemudahan untuk maintenance dan perbaikan, biaya yang rendah, serta kesesuaian kualitas dan desain produk dengan filosofi desain dan mission statemen perusahaan.

9. Design for manufacturingDesain dari produk juga mempengaruhi bagaimana produk tersebut akan diproduksi. Pada tahap ini, tim pengembangan produk harus melakukan estimasi biaya produksi dari produk, termasuk biaya komponen, biaya assembly, dan biaya overhead. Setelah itu, tim juga harus membuat metodologi bagaimana cara untuk mengurangi biaya-biaya tersebut. Dalam menentukan metodologi pengurangan biaya, tim harus memperhatikan pengaruh keputusannya terhadap hal-hal lain, seperti lama waktu pengembangan produk, kualitas produk, dsb.

10. Pembuatan prototypePrototype merupakan produk perkiraan yang menyerupai produk sebenarnya. Prorotype dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu physical prototype dan analytical prototype. Physical prototype merupakan prototype yang berupa benda berwujud, sedangkan analytical prototype merupakan prototype yang tidak berwujud, seperti matematika, sikap. Dalam buku Product Design and Development, Karl T. Ulrich dan Steven D. Eppinger mengungkapkan beberapa langkah dalam pembuatan dan pengembangan produk.


1.Perencanaan produk
Pada tahap ini, tim perencanaan produk membuat perencanaan

produk dan menentukan mission statement dari project, dengan

langkah-langkah sebagai berikut:
a. Mengidentifikasi semua opportunity untuk mengembangkan produk
b. Mengevaluasi setiap opportunity pengembangan produk yang ada,

kemudian membuat prioritas project mana yang akan dilakukan
c. Membuat alokasi resource dan menentukan timeline serta urutan

proses dari project yang akan dilakukan
d. Membuat pre-project planning dengan mengidentifikasikan mission

statement dari produk (deskripsi produk, key business goals, target

market, asumsi dan hambatan yang ada, dan stakeholder dari

produk)
e. Mengevaluasi kembali perencanaan produk yang telah dibuat

2. Identifikasi customer needs


Untuk mengetahui customer needs, dapat dilakukan melalui berbagai macam metode, seperti interiew, melakukan focus group, atau melakukan observasi pada customer terhadap pemakaian suatu produk yang sudah ada. Setelah mendapatkan data yang dapat dikatakan masih kasar, data tersebut diinterpretasikan ke dalam ”customer needs” dan ditentukan mana customer need yang primer dan mana yang sekunder. Kemudian, tim harus menyebarkan kuesioner untuk mengetahui tingkat kepentingan dari setiap customer need.

3. Penentuan spesifikasi produk


Pada tahap ini, tim perencanaan produk harus membuat list dari metric produk, serta mengumpulkan informasi benchmarking dengan produk pesaing yang sudah ada. Setelah melakukan benchmarking, tim harus menentukan target nilai untuk setiap metric. Hal ini ditujukan untuk pengembangan produk selanjutnya.

4. Concept generation


Pada tahap ini, tim harus mengklarifikasikan mengenai masalah teknis yang terjadi pada produk yang akan dibuat. Kemudian, tim dapat mencari solusi pemecahan masalah tersebut dengan cara memecahkannya secara internal ataupun secara eksternal. Cara internal dapat dilakuakn misalnya dengan mencari banyak ide, menggunakan media grafik dan fisik, dsb. Sedangkan cara eksternal dapat dilakukan dengan menginterview lead user, mencari informasi pada produk pesaing lain yang sudah ada, mencari literature, konsultasi dengan ahli, ataupun konsultasi dengan pengguna produk, dsb.

5. Seleksi konsep


Dalam melakukan seleksi konsep, tim perencanaan produk harus membuat selection matrix terlebih dahulu untuk membandingkan setiap konsep yang ada. Kemudian, tiap konsep harus dibuat rating dan rankingnya, sehingga akan diketahui konsep mana yang paling layak untuk dilakukan. Karena terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk seleksi konsep, maka tim perencanaan produk dapat memilih salah satu metode ataupun dapat menggunakan lebih dari satu metode.

6.Pengujian konsep


Setelah melakukan seleksi konsep, kemudian tim perencanaan produk harus melakukan pengujian konsep. Pertama-tama tim harus mendefinisikan tujuan dari pengujian konsep ini. Kemudian, tim memilih populasi dan survey format yang akan digunakan. Survey format dapat berupa interaksi langsung, melalui telepon, melalui surat, e-mail, ataupun internet. Pada survey tersebut, tim perencanaan produk harus memberitahukan kepada responden mengenai konsep produknya secara jelas, sehingga responden dapat mengerti. Setelah mendapatkan hasil survey, tim harus menginterpretasikan data tersebut.

7. Pembuatan arsitektur produk


Pada tahap ini tim pengembangan produk mengidentifikasi bagaimana fisik dari produk akan mempengaruhi fungsi produk. Karena, arsitektur dari produk ini akan berpengaruh pada perubahan produk, standarisasi komponen, performance produk, serta kemampuan produk untuk diproduksi.

8. Industrial design


Dalam membuat desain produk, Henry Dreyfuss (1967) menganjurkan agar desainer melihat 5 hal, yaitu kegunaan produk, penampilan produk, kemudahan untuk maintenance dan perbaikan, biaya yang rendah, serta kesesuaian kualitas dan desain produk dengan filosofi desain dan mission statemen perusahaan.

9. Design for manufacturing


Desain dari produk juga mempengaruhi bagaimana produk tersebut akan diproduksi. Pada tahap ini, tim pengembangan produk harus melakukan estimasi biaya produksi dari produk, termasuk biaya komponen, biaya assembly, dan biaya overhead. Setelah itu, tim juga harus membuat metodologi bagaimana cara untuk mengurangi biaya-biaya tersebut. Dalam menentukan metodologi pengurangan biaya, tim harus memperhatikan pengaruh keputusannya terhadap hal-hal lain, seperti lama waktu pengembangan produk, kualitas produk, dsb.

10. Pembuatan prototype


Prototype merupakan produk perkiraan yang menyerupai produk sebenarnya. Prorotype dapat dikelompokkan menjadi 2 jenis, yaitu physical prototype dan analytical prototype. Physical prototype merupakan prototype yang berupa benda berwujud, sedangkan analytical prototype merupakan prototype yang tidak berwujud, seperti matematika, sikap.-->


TECHNOsoft









KNOWLWDGE SPACE

did u know it ?



Penerapan Sistem Aplikasi Customer Relationship Management (CRM)

Written by Dian MardianiWednesday, 05 November 2008


Sistem Aplikasi CRM (Customer Relationship Management) memiliki dua pandang aspek yang berbeda dalam penerapannya yaitu aspek operasional dan aspek analitik, yang manakah yang harus diterapkan terlebih dahulu?

Penerapan sistem teknologi informasi di perusahaan jasa keuangan saat ini menjadi kebutuhan yang sangat mutlak, selain penerapan di komunikasi dan transaksi juga untuk pemasaran dan customer relationship. Untuk Customer relationship bukan hanya bagaimana mendapatkan pelanggan baru, tapi juga mempertahankan pelanggan lama dan mengenal mereka lebih dekat.Contoh saja perusahaan jasa keuangan Morgan Stanley sempat dibuat pusing dalam menangani masalah pemasaran dan penanganan pelanggan, Morgan Stanley memperkerjakan 13.000 financial advisor (FA) dan mengelola kurang lebih 5 juta account dengan asset 500 miliar dolar AS ini belum memanfaatkan potensi TI (Teknologi Informasi) dalam urusan pemasaran produk maupun dalam customer relationship. Hal ini membuat para FA dan manajer pusing dengan kurangnya hard data, padahal hard data ini bisa dimanfaatkan untuk membuat program kampanye pemasaran maupun pengambilan keputusan.Tony LoFrumento, direktur eksekutif business intelligence dan CRM untuk individual Investor Group di Morgan Stanley mengenang “ kurangnya informasi dan fakta lapangan membuat perusahaan terpaksa mengambil keputusan berdasarkan feeling, cara menjalankan perusahaan seperti ini sekarang sungguh berbahaya”Tugas yang ditanggung Tony LoFrumento ketika bergabung dengan Morgan Stanley di tahun 2001 cukup berat yaitu membangun infrastruktur Customer Relationship Management (CRM) dan Business Intelligence (BI), yang memungkinkan perusahaan berubah dari entitas yang focus pada produk menjadi focus pada pelanggan.Langkah pertama yang dilakukan LoFrumento dalam mengembangkan strategi CRM ini adalah memutuskan mendahulukan membangun aspek analytics, yaitu business intelligence, data mining dan campaign management. Cara yang dilakukan adalah dengan membangun lumbung data terpusat, mengembangkan model prediktif untuk masalah seperti profitibilitas klien dan pengukuran kinerja, serta memperkenalkan BI, piranti analitik dan pelaporan berbasis web untuk menganalisis dan menyampaikan informasi.LoFrumento berujar “ saya berprinsip lebih baik menyiapkan sarana analitik dulu sebelum membangun platform Operational CRM “ kemudian lanjut pria yang sudah menggeluti bidang perbankan selama lebih 15 tahun ini “ Sistem Operasional CRM bisa bekerja secara sempurna, namun jika mereka ditopang oleh business intelligence, sama saja membuat name card organizer yang sangat mahal”.Yang dihadapi perusahaan diatas merupakan masalah klasik, dengan anggaran terbatas, berbagai perusahaan seringkali kesulitan untuk menerapkan system aplikasi ini, mereka bisa langsung membangun aplikasi Operational CRM, yang mengotomasi proses-proses penjualan, pemasaran dan contact centre, serta memungkinkan mereka mengumpulkan dan berbagi informasi pelanggan.Adapun pilihan lainnya menerapkan strategi BI dulu sebelum CRM, caranya dengan menggelar aplikasi analitik, seperti Analytical CRM, guna memanfaatkan sumber data yang sudah ada, dan setelah itu baru menerapkan aplikasi operasional..


Morgan Stanley sudah merasakan manfaat membuat model prediktif untuk segmen tertentu basis pelanggannya, sehingga perusahaan bisa mempertajam sasaran pemasarannya. “Bayangkan berapa besar penghematan dengan tidak mengincar pelanggan, yang menurut analisis hanya akan memberi tingkat respon yang rendah,” ujar LoFrumento“Anda bisa menjalankan kampanye pemasaran berdasarkan sebuah model prediktif kecenderungan belanja pelanggan. Ini sangat berbeda dengan cara terdahulu ketika pemasaran dijalankan berdasarkan pemilihan basic audience -nya,” lanjutnya.Bagi Morgan Stanley, aplikasi Operational CRM memang belum dibutuhkan, tapi suatu saat perlu diimplementasikan. Namun, menurut LoFrumento, jika memulainya dari nol, sebaiknya lakukan penggelaran aplikasi analitik dulu. “Hasilnya langsung bisa dirasakan dan Anda pun sudah dalam posisi siap ketika memutuskan menggulirkan aplikasi Operational CRM ,” jelas LoFrumento.Saat ini para FA Morgan Stanley bisa mendapatkan informasi menyeluruh mengenai masing-masing kliennya melalui sebuah menu laporan, yang bisa diakses melalui intranet perusahaan. Menurut LoFrumento, karena 5 persen dari klien bisa menghasilkan 95 persen dari seluruh pendapatan, teknologi CRM memungkinkan perusahaan melakukan pemodelan prediktif dan menggeser konsentrasi layanan ke pelanggan bernilai tinggi tersebut.Lagipula, menurut LoFrumento, aplikasi analitik tidak begitu mahal, dan manfaatnya langsung terasa karena ia memberikan informasi yang benar-benar Anda butuhkan untuk menjalankan bisnis.“Informasi yang kami miliki semakin rinci, dan kini kami mampu memanfaatkan data tersebut untuk membantu product marketing group merencanakan kampanye berikutnya,” tuturnya. “Walhasil, marketing campaign -nya pun menjadi lebih cerdik.”Jadi mana yang harus diterapkan lebih dulu, business intelligence (dengan Analytical CRM ) atau Operational CRM ?Kebutuhan perusahaan Anda jualah yang bisa menjawab hal tersebut.

MEMBANGUN SISTEM ERP PADA PERUSAHAAN BARU

TECHNOsoft








KNOWLEDGE SPACE

U MUST KNOW IT !


Apa itu ERP (Enterprise Resource Planning)
Written by Administrator

Kebanyakan orang masih belum mengetahui apa yang dimaksud dengan sistem ERP (Enterprise Resource Planning) dan konsep sistem ERP itu sendiri. Serta bagaimana suatu sistem ERP dapat memberikan "revenue" bagi suatu perusahaan yang mengimplementasikan sistem tersebut.
Secara garis besar, ERP bisa digambarkan sebagai perkakas manajemen yang menyeimbangkan persediaan dan permintaan perusahaan secara menyeluruh, berkemampuan untuk menghubungkan pelanggan dan supplier dalam satu kesatuan rantai ketersediaan, mengadopsi proses-proses bisnis yang telah terbukti dalam pengambilan keputusan, dan mengintegrasikan seluruh bagian fungsional perusahaan; sales, marketing, manufacturing, operations, logistics, purchasing, finance, new product development, dan human resources. Sehingga bisnis dapat berjalan dengan tingkat pelayanan pelanggan dan produktifitas yang tinggi, biaya dan inventory yang lebih rendah, dan menyediakan dasar untuk e-commerce yang efektif.

Dari semua pengembangan teknologi sistem informasi dewasa ini, satu sistem informasi yang didesain untuk mendukung keseluruhan unit fungsional dari perusahaan adalah Enterprise Resource Planning atau ERP. ERP adalah suatu paket piranti lunak (software) yang dapat memenuhi kebutuhan suatu perusahaan dalam mengintegrasikan keseluruhan aktivitasnya, dari sudut pandang proses bisnis di dalam perusahaan atau organisasi tersebut. Sistem aplikasi ERP adalah salah satu sistem informasi yang tercanggih yang bisa didapatkan pada awal abad 21 ini. Untuk dapat mengadopsi teknologi ERP, suatu perusahaan tidak jarang harus menyediakan dana dari ratusan juta hingga milyaran rupiah. Dana sebesar itu harus disediakan untuk investasi paket software ERP, hardware berupa server dan desktop, database dan operating sistem software, high performance network, hingga biaya konsultasi untuk implementasi. Meskipun dihalangi oleh biaya investasi yang besar, banyak perusahaan di dunia dan tidak terkecuali di Indonesia seperti berlomba-lomba untuk mengadopsi sistem informasi ini. Hal ini karena paket software ERP yang diimplementasikan secara baik akan menghasilkan ”return” terhadap investasi yang layak dan dalam waktu cepat. Karena ERP menangani seluruh aktivitas dalam organisasi, membawa budaya kerja baru dan integrasi dalam organisasi. mengambil alih tugas rutin dari personel dari tingkat operator hingga manajer fungsional, sehingga memberikan kesempatan kepada sumber daya manusia perusahaan untuk berkonsentrasi dalam penanganan masalah yang kritis dan berdampak jangka panjang. ERP juga membawa dampak penghematan biaya (cost efficiency) yang signifikan dengan adanya integrasi dan monitoring yang berkelanjutan terhadap performance organisasi. Secara implisit ERP bukan hanya suatu software semata, namun merupakan suatu solusi terhadap permasalahan informasi dalam organisasi. Enterprise Resource Planning (ERP) dapat didefinisikan sebagai aplikasi sistem informasi berbasis komputer yang dirancang untuk mengolah dan memanipulasi suatu transaksi di dalam organisasi dan menyediakan fasilitas perencanaan, produksi dan pelayanan konsumen yang real-time dan terintegrasi.
ERP merupakan suatu sistem yang terintegrasi, sehingga sistem ERP mampu memberikan kepada organisasi penggunanya suatu model pengolahan transaksi yang terintegrasi dengan aktivitas di unit bisnis lain dalam organisasi. Dengan mengimplementasikan proses bisnis standar perusahaan dan database tunggal (single database) yang mencakup keseluruhan aktivitas dan lokasi di dalam perusahaan, ERP mampu menyediakan integrasi di antara aktivitas dan lokasi tersebut. Sebagai hasilnya, ERP sistem dapat mendorong ke arah kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik dengan parameter yang terukur secara kuantitatif. Sehingga keputusan yang dihasilkan tersebut dapat saling mendukung proses operasional perusahaan atau organisasi.

Mudah-mudahan sedikit ulasan diatas dapat memberikan gambaran kepada para pembaca mengenai apa itu sistem ERP secara umum.

Senin, 08 Juni 2009

KATA PENGANTAR

SELAYANG KATA BERSAMA
Bismillahirahmannirahim,

Alhamdulillah hirabilalamin,

Kami persembahkan tulisan kami, untuk Teman-Teman kami, Guru-guru kami. Yang mendukung terbentuknya blog ini. Kami berharap Blog ini menjadi media untuk semua dalam menggali Ilmu bersama menuju Indonesia Jaya